Kamis, 30 April 2015

Salam (yang) tersirat

Salam (yang) tersirat

Hari ini pukul 09.02. November 06, 2014. Duduk sendiri memandangi layar laptop di sudut ruangan ini. Tak berkawan. Sepi. Mencoba menyenangkan diri sendiri. Me Time. Entah bagaimana suhu udara di luar namun yang aku tau sangatlah panas. Mencoba menelisik rasa dalam benang, mencoba untuk merangkai kata yang syahdu. Tak bisa. Ternyata aku tak bisa. Hanya sebuah kalimat yang mampu terungkap apa adanya, sungguh tak indah terdengar. (Yaa sudahlah, apa daya)

Pernah sangat mengharapkan seseorang. Pernah sangat memimpikan sesuatu.
Pernah sangat ingin menyapa sosok itu. Pernah sangat ingin bertegur sapa dengannya.
Semua itu pernah kurasakan. Namun, tak bisa ku melakukan itu semua. Tak cukup ku bernyali di depannya.
Waktu yang semakin berlalu tak membuatku kunjung bernyali.
Mungkin memang harus berhenti berharap pada seseorang itu, bukan karena rasa itu sudah tak ada. Namun, karena aku tau bahagianya bukan tuk diriku.
Yya..kini dia telah menemukan bahagianya.

Pernah mengagumi seseorang. Pernah mengidolakan seseorang itu.
Mungkin pernah mengharapkan lebih darinya.
Dia yang memperhatikanku dari hal yang sepele. Dia yang membuatku nyaman disampingnya. Dia yang kuinginkan tuk jadi masa depanku, calon imamku.

Namun, aku tau
dia yang tak mungkin jadi masa depan aku.
Dia yang tak mungkin jadi calon imamku
Dia yang hanya bisa ku kagumi

Pukul 10.15. Layar menunjukkan sinyal “battery low”. Ku akhiri sudah semua ocehan ini. Tak berbobot. Sungguh tak perlu dihiraukan. Tak berarti juga ini.

Selamat siang menuju pagi untuk calon imamku yang sesungguhnya yang ada entah dimana. Semoga kita bertemu tak lama lagi. Hey...aku menunggumu, menunggu kau datang kemari. Aku disini sedang mempersiapkan diri menjadi sosok yang lebih baik untukmu kelak. Semoga akan ada restu Allah yang segera kukantongi, untukku dan untukmu.

Bismilllah

0 komentar:

Posting Komentar