Salam
(yang) tersirat
Hari
ini pukul 09.02. November 06, 2014. Duduk sendiri memandangi layar
laptop di sudut ruangan ini. Tak berkawan. Sepi. Mencoba menyenangkan
diri sendiri. Me Time. Entah bagaimana suhu udara di luar namun yang
aku tau sangatlah panas. Mencoba menelisik rasa dalam benang, mencoba
untuk merangkai kata yang syahdu. Tak bisa. Ternyata aku tak bisa.
Hanya sebuah kalimat yang mampu terungkap apa adanya, sungguh tak
indah terdengar. (Yaa sudahlah, apa daya)
Pernah
sangat mengharapkan seseorang. Pernah sangat memimpikan sesuatu.
Pernah
sangat ingin menyapa sosok itu. Pernah sangat ingin bertegur sapa
dengannya.
Semua
itu pernah kurasakan. Namun, tak bisa ku melakukan itu semua. Tak
cukup ku bernyali di depannya.
Waktu
yang semakin berlalu tak membuatku kunjung bernyali.
Mungkin
memang harus berhenti berharap pada seseorang itu, bukan karena rasa
itu sudah tak ada. Namun, karena aku tau bahagianya bukan tuk diriku.
Yya..kini
dia telah menemukan bahagianya.
Pernah
mengagumi seseorang. Pernah mengidolakan seseorang itu.
Mungkin
pernah mengharapkan lebih darinya.
Dia
yang memperhatikanku dari hal yang sepele. Dia yang membuatku nyaman
disampingnya. Dia yang kuinginkan tuk jadi masa depanku, calon
imamku.
Namun,
aku tau
dia
yang tak mungkin jadi masa depan aku.
Dia
yang tak mungkin jadi calon imamku
Dia
yang hanya bisa ku kagumi
Pukul
10.15. Layar menunjukkan sinyal “battery low”. Ku akhiri sudah
semua ocehan ini. Tak berbobot. Sungguh tak perlu dihiraukan. Tak
berarti juga ini.
Selamat
siang menuju pagi untuk calon imamku yang sesungguhnya yang ada entah
dimana. Semoga kita bertemu tak lama lagi. Hey...aku menunggumu,
menunggu kau datang kemari. Aku disini sedang mempersiapkan diri
menjadi sosok yang lebih baik untukmu kelak. Semoga akan ada restu
Allah yang segera kukantongi, untukku dan untukmu.
Bismilllah
