“teng…tong…teng…tong…”
Bunyi
bel sekolah yg selalu menyambut datangnya pagi hari. Ditemani pintu gerbang
sekolah yg selalu menyapa dengan ucapan “Good Morning”
|
K
|
u
ayunkan sepeda onthel tahun 90an peninggalan Kakek Sugeng. Beliau memberikan
kepadaku sekitar lima tahun yg lalu. Semakin
cepat ku ayunkan sepeda sederhana ini, ketika jam di tangan menunjukkan pukul
06.54. Padahal aku tahu perjalanan masih 8 menit lagi, itupun jika perjalanan
lancar dan sudah pasti terlambat. Apalagi sekitar pukul 7, jalanan tengah kota
sudah pasti penuh sesak.
“Semoga tidak terlambat lagi
seperti kemarin!” ucapku dalam hati.
Dan…dugaanku benar Pak satpam
telah menutup gerbang sekolah telah ditutup. Ku lihat jam di tangan, pukul
07.10. Siswa yg terlambat sudah berjajar antri di depan pintu gerbang menunggu
namanya usai dicatat oleh Pak Bambang atau Bu Herdi. Guru BP yg selalu mengurus
keterlambatan siswa.
‘Nggak mungkin memberi alasan ban
ku bocor, karna kemarin aku sudah memberi alasan itu. Nggak munkin juga aku
bilang rantainya lepas, karna itu alasan yg ku beri 3hari yg lalu.”pikirku
dalam hati sambil ku usap keringat yg mulai menetes usai perjalanan 5km.
“Luna Octaviana XI A4?” ucap Pak
Bambang dengan suara lantang seraya mengerutkan keningnya.
“Iyaa..Pak!”(ternyata beliau
sudah hafal namaku, sinis sepertinya)
“Kenapa lagi terlambat?”
“Ee..tadi jalan yg biasa saya
lewati ditutup,Pak, karna ada layatan. Sehingga saya harus memutar jalan dan
itu lebih jauh,Pak.’’ Ucapku dengan sedikit gemetar.
“Ini sudah ke-2 kalinya kamu
terlambat, sekali lagi kamu terlambat maka orangtua mu wajib datang ke
sini”ucapnya dengan tegas.
“Iya, Pak. Saya mengerti.”
“Sekarang ke lapangan sana!”
Huft…akhirnya. Perlahan ku dorong
sepedanya ke parkiran dan menuju ke lapangan, karna siswa yg terlambat pasti
diberi hukuman.
“Bagas Trianggoro Adji XI A2?” Ku
dengar Pak Bambang menyebutkan sebuah nama yg membuatku penasaran, ku tengok
perlahan kearah datangnya suara itu. Ternyata lelaki berkulit putih pengendara
FU hitam itu.
“Oo..ternyata namanya Bagas,
kelas XI A2.”
***
“Lun…ke kantin yuk! Lapeer nih,
tadi aku buru-buru jadi gak sempet sarapan.” ajak Mona padaku.
“Okeeyy...yukk!”
(Sesampainya
di kantin)
“Mon, kamu mau pesen apa?”
“Aku mie ayam aja deh..,aku yg
pesen minumnya ya! Kamu mau pesen apa?”
“Aku es jeruk aja..”
Aku pun bergegas pesan mie ayam
ke Pak Kumis, keburu penuh. Karna mie ayam Pak Kumis pasti ramai saat istrahat.
Kebetulan tadi jam ke 3-4 kelasku kosong, hanya diberi tugas saja. Jadi bisa
curi start deh.
“Pak..mie ayamnya 2, yg 1 gak
pake sayur yah!”
“Okey..!”
‘Pak..mie ayamnya 5 !”
Ku dengar suara yg tak asing dari
belakangku. Ku arahkan bola mataku ke sumber suara tsb. Dia rupanya. Ku
palingkan wajahku kearah tempat duduk kantin, saat dia mulai memandang ke
arahku.
Oo..ternyata dia sama temennya
berempat+Dilla,ceweknya,XI A1. Cewek paling cantik seangkatan and cukup tajir.
Baik tampangnya, rambutnya pun panjang hitam berkilau, pinter pula. Tipe cewek
perfect di mata cowoklah. Arrggh..panas rasanya.
***
Kenaikan kelaspun tiba.
Alhamdulillah aku naik kelas, tapi kelasnya diacak. Tapi, untunglah aku masih
satu kelas sama Mona,sahabatku. Tapi ada yg lebih mengejutkan aku satu kelas
sama Bagas. OMG! Oiya…Dilla udah pindah sekolah ke Bandung. Senengg…hhahaha..!☺
***
Hari ini jam terakhir pelajaran
TIK. Pak Danang membagi kami menjadi 8 kelompok secara masing-masing
beranggotakan 4orang. Dan saat namaku dipanggil ternyata aku satu kelompok sama
Dito, Farah, dan Bagas. Hahh? Sama Bagas ? Seneng tapi…! Dia ternyata jago TI,
pantesan pengen masuk ITB.
***
Tanggal 15 September 2009. Hari
ini hari special untuk kita semua karna hari ini kita akan diwisuda. Tidak
terasa aku sudah mau jadi mahasiswa. Tapi, hingga akhir kelas XII aku nggak
pernah bias dekat dan ngobrol banyak sama dia. Dia terlihat cakep hari ini,
dengan setelan jas hitam & kemeja merah maroon dgn mawar merah di saku
jasnya. Karna memang sengaja kelas kita yg cowok iuran untuk beli mawar merah
agar terlihat beda dengan kelas lain.
Sekarang telah diterima di UGM
jurusan akuntansi. Memang berbeda dengan jurusanku sewaktu SMA, tapi memang ini
impianku. Kabar yg kudengar terakhir Bagas diterima di ITB. Mungkin aku nggak
bisa ketemu dia lagi. Tapi satu hal terindah yg kan selalu ku ingat adalah
senyumnya yg penuh makna waktu di depan kelas sewaktu kita akan memasuki ruang
wisuda. Kumis tipisnya yg selalu terbayang di benakku. Sampai saat ini dia tak
pernah tau tentang rasa ini & mungkin tak akan pernah tau. Semoga masih ada
kesempatan bertemu dengannya.
Tersadarku dalam lamunan tentang masa lalu itu. Kini aku hanya bisa
memandangi foto kenangan ini yg telah ku bingkai indah yg ku pasang dalam sudut
kamarku yg mungil ini. Semuanya kini tinggallah kenangan yg tak mungkin bisa
terulang & tak mungkin bisa kembali lagi. Semua tentangmu kan abadi karna
KITA UNTUK SELAMANYA.


0 komentar:
Posting Komentar