Senin, 13 Juni 2011

Sepenggal Kisah “Abu-Abu Putih”



teng…tong…teng…tong…”


Bunyi bel sekolah yg selalu menyambut datangnya pagi hari. Ditemani pintu gerbang sekolah yg selalu menyapa dengan ucapan “Good Morning”




K

u ayunkan sepeda onthel tahun 90an peninggalan Kakek Sugeng. Beliau memberikan kepadaku sekitar  lima tahun yg lalu. Semakin cepat ku ayunkan sepeda sederhana ini, ketika jam di tangan menunjukkan pukul 06.54. Padahal aku tahu perjalanan masih 8 menit lagi, itupun jika perjalanan lancar dan sudah pasti terlambat. Apalagi sekitar pukul 7, jalanan tengah kota sudah pasti penuh sesak.

“Semoga tidak terlambat lagi seperti kemarin!” ucapku dalam hati.

Dan…dugaanku benar Pak satpam telah menutup gerbang sekolah telah ditutup. Ku lihat jam di tangan, pukul 07.10. Siswa yg terlambat sudah berjajar antri di depan pintu gerbang menunggu namanya usai dicatat oleh Pak Bambang atau Bu Herdi. Guru BP yg selalu mengurus keterlambatan siswa.

‘Nggak mungkin memberi alasan ban ku bocor, karna kemarin aku sudah memberi alasan itu. Nggak munkin juga aku bilang rantainya lepas, karna itu alasan yg ku beri 3hari yg lalu.”pikirku dalam hati sambil ku usap keringat yg mulai menetes usai perjalanan 5km.

“Luna Octaviana XI A4?” ucap Pak Bambang dengan suara lantang seraya mengerutkan keningnya.

“Iyaa..Pak!”(ternyata beliau sudah hafal namaku, sinis sepertinya)

“Kenapa lagi terlambat?”

“Ee..tadi jalan yg biasa saya lewati ditutup,Pak, karna ada layatan. Sehingga saya harus memutar jalan dan itu lebih jauh,Pak.’’ Ucapku dengan sedikit gemetar.

“Ini sudah ke-2 kalinya kamu terlambat, sekali lagi kamu terlambat maka orangtua mu wajib datang ke sini”ucapnya dengan tegas.

“Iya, Pak. Saya mengerti.”

“Sekarang ke lapangan sana!”



Huft…akhirnya. Perlahan ku dorong sepedanya ke parkiran dan menuju ke lapangan, karna siswa yg terlambat pasti diberi hukuman.

“Bagas Trianggoro Adji XI A2?” Ku dengar Pak Bambang menyebutkan sebuah nama yg membuatku penasaran, ku tengok perlahan kearah datangnya suara itu. Ternyata lelaki berkulit putih pengendara FU hitam itu.

“Oo..ternyata namanya Bagas, kelas XI A2.”

***

“Lun…ke kantin yuk! Lapeer nih, tadi aku buru-buru jadi gak sempet sarapan.” ajak Mona padaku.

“Okeeyy...yukk!”

(Sesampainya di kantin)

“Mon, kamu mau pesen apa?”

“Aku mie ayam aja deh..,aku yg pesen minumnya  ya! Kamu mau pesen apa?”

“Aku es jeruk aja..”

Aku pun bergegas pesan mie ayam ke Pak Kumis, keburu penuh. Karna mie ayam Pak Kumis pasti ramai saat istrahat. Kebetulan tadi jam ke 3-4 kelasku kosong, hanya diberi tugas saja. Jadi bisa curi start deh.

“Pak..mie ayamnya 2, yg 1 gak pake sayur yah!”

“Okey..!”

‘Pak..mie ayamnya 5 !”

Ku dengar suara yg tak asing dari belakangku. Ku arahkan bola mataku ke sumber suara tsb. Dia rupanya. Ku palingkan wajahku kearah tempat duduk kantin, saat dia mulai memandang ke arahku.

Oo..ternyata dia sama temennya berempat+Dilla,ceweknya,XI A1. Cewek paling cantik seangkatan and cukup tajir. Baik tampangnya, rambutnya pun panjang hitam berkilau, pinter pula. Tipe cewek perfect di mata cowoklah. Arrggh..panas rasanya.

***

Kenaikan kelaspun tiba. Alhamdulillah aku naik kelas, tapi kelasnya diacak. Tapi, untunglah aku masih satu kelas sama Mona,sahabatku. Tapi ada yg lebih mengejutkan aku satu kelas sama Bagas. OMG! Oiya…Dilla udah pindah sekolah ke Bandung. Senengg…hhahaha..!☺

***

Hari ini jam terakhir pelajaran TIK. Pak Danang membagi kami menjadi 8 kelompok secara masing-masing beranggotakan 4orang. Dan saat namaku dipanggil ternyata aku satu kelompok sama Dito, Farah, dan Bagas. Hahh? Sama Bagas ? Seneng tapi…! Dia ternyata jago TI, pantesan pengen masuk ITB.

***

Tanggal 15 September 2009. Hari ini hari special untuk kita semua karna hari ini kita akan diwisuda. Tidak terasa aku sudah mau jadi mahasiswa. Tapi, hingga akhir kelas XII aku nggak pernah bias dekat dan ngobrol banyak sama dia. Dia terlihat cakep hari ini, dengan setelan jas hitam & kemeja merah maroon dgn mawar merah di saku jasnya. Karna memang sengaja kelas kita yg cowok iuran untuk beli mawar merah agar terlihat beda dengan kelas lain.

***

Sekarang telah diterima di UGM jurusan akuntansi. Memang berbeda dengan jurusanku sewaktu SMA, tapi memang ini impianku. Kabar yg kudengar terakhir Bagas diterima di ITB. Mungkin aku nggak bisa ketemu dia lagi. Tapi satu hal terindah yg kan selalu ku ingat adalah senyumnya yg penuh makna waktu di depan kelas sewaktu kita akan memasuki ruang wisuda. Kumis tipisnya yg selalu terbayang di benakku. Sampai saat ini dia tak pernah tau tentang rasa ini & mungkin tak akan pernah tau. Semoga masih ada kesempatan bertemu dengannya.


Tersadarku dalam lamunan  tentang masa lalu itu. Kini aku hanya bisa memandangi foto kenangan ini yg telah ku bingkai indah yg ku pasang dalam sudut kamarku yg mungil ini. Semuanya kini tinggallah kenangan yg tak mungkin bisa terulang & tak mungkin bisa kembali lagi. Semua tentangmu kan abadi karna KITA UNTUK SELAMANYA. 



     




0 komentar:

Posting Komentar